Fakta di Balik Penganiayaan Balita oleh Pacar Ibunya Di Makasar

Fakta di Balik Penganiayaan Balita oleh Pacar Ibunya Di Makasar – ST (18) adalah ibu dari Makassar.Menurut laporan, pacarnya MRP (24) menganiaya anaknya yang berumur 14 bulan GY. Akibat penganiayaan, GY mengalami luka memar dan gigitan di sekujur tubuhnya.

Fakta di Balik Penganiayaan Balita oleh Pacar Ibunya Di Makasar

Sumber : news.detik.com

maxwellsnj – Puncak penganiayaan dilakukan MRP di salah satu rumah kos di Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakukang, Makassar pada Senin (8/2/2021) malam. Malam itu, GY terus menangis. Emosi MRP melanda anak kecil. Lalu dia pergi ke kamar mandi.

Setelah itu, MRP kembali mengalahkan GY hingga memar dan menggigit dadanya. Ibu ST yang tinggal di kost tidak bisa berbuat banyak saat anaknya dianiaya.

Jika melawan, ST diancam dengan pemukulan. Malam itu bukanlah penganiayaan yang pertama oleh MRP. Sebelumnya, pelaku menggunakan sarung untuk menyumbat mulut anak tersebut. Setelah menyiksa GY, MRP langsung meninggalkan kos dengan mengendarai sepeda motor.

ST melihat anaknya terluka parah dan segera melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Berikut beberapa Fakta di Balik Penganiayaan Balita oleh Pacar Ibu Kandungnya yang di kutip dari kompas.com :

1. Pelaku dan korban tinggal bersama

Sumber : daerah.sindonews.com

ST, ibu balita itu baru berusia 18 tahun. Dia menceraikan suami ayah anak yang malang itu. Setelah bercerai, ST menjalin hubungan dengan pacarnya MRP yang berprofesi sebagai tukang ojek online.

Padahal, sejak enam bulan terakhir, ST dan anak-anaknya tinggal satu kamar dengan pelaku. Selama mereka tinggal bersama, MRP sering menganiaya GS. Di saat yang sama, sang ibu takut melaporkan kejadian tersebut karena kerap diancam.

Kapolsek Kabosek Panakukang Jamal Fatehraman (Palakhurkman) mengatakan kepada wartawan di Mapolres Panakkukang, Selasa (9/2/2021): “Saat ibu korban dipukul di sana, Cuma ibu korban yang takut.

Kejadian ini sudah terjadi. Polisi kini sedang menyelidiki apakah pelaku masih melecehkan ibu korban, yang menimbulkan ketakutan.

“Kejadian ini berulang berulang kali, tapi ini pertama kalinya ibu korban merasa sangat kesal dengan pelaku karena sudah keterlaluan.” Jamal mengatakan: “Kami melihat lukanya sangat parah. Harus dirawat di rumah sakit. . ”

Ia mengatakan, penganiayaan yang dilakukan MRP sebelum kejadian pada Senin malam itu tidak pernah dilaporkan oleh ST. Jamal mengatakan: “Ketika ibu korban dipukuli di sana, hanya ibu korban yang takut karena terlalu banyak melapor ke polisi.

Kami sedang menyelidiki apakah ada ancaman.” Pusat Layanan Komprehensif Kota Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) terkoordinasi.

Berkoordinasi untuk membiayai pengobatan GY dan memberikan bantuan psikologis agar korban tidak mengalami trauma. Korban GY saat ini sedang dirawat di RS Bhayangkara Makassar.

Dokter di bagian bedah mayat menyarankan GY untuk tidak meninggalkan rumah sakit karena anak tersebut mengalami luka berat. Jamal mengatakan: “Dokter menyimpulkan bahwa korban harus dirawat di Rumah Sakit Bayankara.”

Baca juga : Fakta-fakta Amblesnya Jalan Tol Cipali KM 122

2. Pelaku Ditangkap

Sumber : news.okezone.com

Tak lama kemudian, polisi berhasil mengamankan MRP di tempat berkumpulnya tukang ojek online di Jalan AP Pettarani, Makassar, Selasa (9/2/2021) sore. MRP emosional membayar harga dan menyiksanya secara manual.

Jamal mengatakan: “Pelaku merasa tidak nyaman dan kesal dengan keluhan atau tangisan korban, atau korban pilih-pilih, sehingga korban menyiksa pelaku berkali-kali.” Di saat yang sama, MRP mengaku dalam wawancara dengan wartawan.

Ia pernah menyiksa korban sebanyak 3 kali, karena GY menangis tersedu-sedu, ia terpaksa menyiksa korban.

MRP berkata: “Mulai dari akhir bulan (Januari), tapi tidak sekitar 2-3 kali sehari.” Dia mengaku tidak tahu apakah penganiayaan itu melukai wajah GY. Ia mengatakan bahwa GY yang berinisial ST juga dipukul oleh ibunya.

MRP berkata: “Saya memukul paha dia. Dia tidak memiliki banyak wajah ketika saya pergi keluar. Ketika saya naik ojek, dia tidak memiliki banyak wajah.”

Kemudian, MRP ditahan dan didakwa dengan Republik Indonesia tahun 2002. Pasal 80 ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 tentang Perlindungan Anak. Jamal berkata: “Mengancam akan masuk penjara selama lima tahun.”

Baca juga : 9 Fakta di Balik Pembunuhan Sekeluarga di Rembang

3. Pengakuan Tersangka

Raikhan Parandi (21 tahun) menganiaya anak pacarnya yang berusia satu tahun di Makassar, Sulawesi Selatan dan ditangkap polisi. Pelaku mengaku telah dua kali menganiaya korban.

Pelaku Raikhan Parandi di Polres Panakukkang, Selasa (9/2/2021) mengatakan: “Dua kali (pemukulan).”

Pelaku ditangkap oleh Rutan Polsek Panakukkang di tempat persembunyian Jalan Andi Pangeran Pettarani di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan pada Selasa (9/2). Setelah ditangkap, pelaku dibawa ke Polres Panakukkang untuk diperiksa.

Menurut keterangan pelaku, perilakunya menyiksa korban karena sang anak terus menangis. Ia pun berani melakukan hal sendiri karena ibu-pacar korban sendiri yang memukulinya lebih dulu.

“Karena (ibu) menelepon untuk menangis (korban) dan memukulinya, saya menggendongnya tetapi masih menangis, kemudian dia dipukul oleh ibunya. Jadi saya taruh di spring bed, dan saya bilang, kalau masih dipukul ( Korban) Saya juga ingin mengalahkannya. ”

Pelaku mengatakan, saat keluar dari TKP (kos di dekat Panakorn, Makassar), korban tidak mengalami luka berat.

“Tapi saya keluar jam 8 malam dan saya pulang lagi. Bukan saat saya pergi, saya tidak keluar,” jelas Lehan.

Ketika pelaku menganiaya korban, dia mengatakan bahwa dia hanya memukul paha dan mendorong anak tersebut. Di saat yang sama, pelaku juga menolak mengatakan bahwa dirinya menggigit tubuh korban dan mengakibatkan luka seperti gigitan.

“Di sini, saya pukul dia dulu, pukul dia di paha, (kemudian) saya dorong ke belakang. (Lukanya seperti gigitan), saya tidak menggigitnya,” kata Lehan.

Pelaku didakwa dengan pasal terkait kekerasan terhadap anak di bawah umur. Jamal mengatakan: “Karena itu, bagi tersangka, kami menduga Pasal 85 ayat 2 bisa dijatuhi hukuman hingga lima tahun penjara.”