6 Kisah Pilu Para Korban Sriwijaya Air SJ 182

6 Kisah Pilu Para Korban Sriwijaya Air SJ 182 – Sekitar sepekan lalu, beberapa menit setelah lepas landas pada Sabtu (9/1/2021), pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak mengalami kecelakaan.

6 Kisah Pilu Para Korban Sriwijaya Air SJ 182

Sumber : minews.id

maxwellsnj – Mayat para penumpang kini telah ditemukan satu per satu. Hingga Minggu (17/1/2021), tim Identifikasi Korban Bencana (DVI) Polri telah mengidentifikasi 29 korban dari 62 orang.

Orang yang dikonfirmasi kemudian dikembalikan ke aula ritual. Berikut Kisah Pilu Korban Sriwijaya Air yang meninggal dunia.

1. Tangis Yaman Zai, istri dan 3 anaknya berada di pesawat Sriwijaya Air

Sumber : indozone.id

Satu orang pria bernama Yaman Zai tidak bisa menahan tangis. Di Bandara Pontianak, Yaman Zai menetaskan air matanya terus menerus karena Istri dan tiga anak yang dinantikannya tidak juga datang.

Termasuk anak bungsu yang masih bayi. Mereka adalah penumpang Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta Punta Nak. Dia berkata: “Terakhir kali saya dihubungi adalah pada pukul 2.30 siang ini, mereka sudah berada di bandara.

Makanya saya menunggu, biasanya setidaknya satu jam untuk tiba, tetapi mereka menunggu mereka tidak datang, jadi mereka tidak datang. tidak menelepon.

Awalnya, putra dan istrinya ingin pergi berlibur dan menghabiskan waktu di Pontianak. Dia berkata: “Istri saya, dan kemudian ketiga anak saya menjadi penumpang.

Saya telah bekerja di sini selama lebih dari setahun dan mereka ingin datang ke sini untuk berlibur.” Yaman berharap dapat segera menemukan istri dan anak-anaknya.

Baca juga : 10 Organisasi Politik Internasional Dan Tujuannya

2. Indah kirim foto sayap pesawat dan pesan “doakan ya”

Sumber : regional.kompas.com

Warga asal Ogan Ilir, Indah Halima Putri merupakan salah satu dari beberapa penumpang Sriwijaya Air SJ182. Adik Indah, Nabila, mengatakan bahwa kakaknya mengirimkan foto hujan badai ke pesawat SJ182 milik Sriwijaya Air.

Foto yang dikirim Indah tersebut disertai dengan permohonan doa. “Berdoa,” kata Nabira saat melihat pesan WhatsApp kakaknya di rumahnya di Desa Sungai Pinang 2, Kecamatan Sungai Pinang, Ogan Yilir, Sumatera Selatan, Sabtu.

Saat itu, sang adik menjawab dengan sangat singkat, “hati-hati.” Di luar dugaan, setelah Indah kehilangan kontak di pesawat, percakapan mereka berubah menjadi momen tak terlupakan.

Saat itu, Indah kembali ke Pontianak bersama suaminya Muhammad Rizky Wahyudi beserta anak-anaknya, mertua Rossi Wahyuni, dan keponakan suaminya. Setelah menikah, Yingda tinggal di Pontianak bersama suaminya.

Dia tidak pulang ke Ogan Ilir disebabkan melahirkan dan merawat bayinya selama beberapa bulan. Di penghujung bulan Desember, Rizky mengajak Indah ke kampung halamannya di Bangka Belitung.

Tim Indah dijadwalkan kembali ke Pontianak melalui Jakarta pada Minggu (10/1/2021) dari Bonka Belitung. Ayah Indah Ridwan mengatakan, mereka berangkat lebih awal pada Sabtu (9/1/2021) karena hasil tes usap keluar lebih awal.

“Kalau kabar istrinya (cantik) seperti itu. Kalau hasil usap biasanya dua hari, dan kalau empat hari di Bangka pinang makanya diambil swab di Jakarta. Tiba-tiba ada pemberitahuan. (Reidwan bilang: “Sabtu,” katanya hasilnya sudah keluar: “Akhirnya saya sudah di ruang tunggu (bandara) tempat saya berangkat.”

3. Angga sempat video call orangtua, perlihatkan anaknya yang baru lahir

Sumber : solo.tribunnews.com

Video call pria asal Padang bernama Angga Fernanda Afriyon itu seakan mengenang kedua orang tuanya Oyon (60) dan Afrida (55). Video call tersebut dilakukan pada malam sebelum Angga menggunakan Sriwijaya Air SJ 182 untuk terbang.

Selama percakapan, Angga dengan senang hati menunjukkan bayinya yang baru lahir. Suci, sepupu muda Angga, mengatakan: “Kakak saya melakukan video call dengan saya dan orangtuanya malam sebelum penerbangan.”

Suci menuturkan, Angga kecil lahir pada 2 Januari 2021, tinggal beberapa hari saja. Ia tidak menyangka bencana akan menimpa ayah bayi tersebut. Menurut Suci, Angga yang bekerja di bagian pelayaran Kalimantan itu sudah menikah, menikah dengan istrinya, dan tinggal di Jakarta.

Unga juga mengatakan bahwa dirinya akan ke Kalimantan karena diminta oleh pimpinannya. Pasca kecelakaan pesawat, warga mendatangi rumah orang tua Unga untuk berdoa. Pihak keluarga masih berharap Angga bisa pulang dengan selamat.

Susie mengatakan: “Doakan Bang Angga selamat. Dia lulusan SMK perkapalan dan pandai berenang. Kalau jatuh ke laut, semoga bisa selamat.”

4. Razanah Kirim Foto Bersama Suaminya

Sumber : pontianak.kompas.com

Seorang PNS bernama Razanah (58) di Kedah juga menjadi penumpang. Dia dan suaminya meninggalkan Jakarta menuju Pontianak. Sebelum lepas landas, perempuan yang pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Perlindungan Lingkungan (Perkim LH) Kabupaten Ketapang ini mengirimkan foto kepada keluarganya.

Foto yang dikirim adalah saat Razanah berpose dengan suaminya sebelum pesawat Sriwijaya Air SJ 182 lepas landas. Keponakannya Hendra mengenang: “Sebelum lepas landas, dia mengirim foto ke keluarganya.

Bu Lazana berfoto selfie dan memberikan foto keduanya.” Keluarga berharap mereka akan segera menerimanya. Kabar baik tentang keberadaan Razanah.

Ketapang Dennery, Head of Perkim LH Service, juga melihat daftar karyawan LH Perkim Service untuk penumpang SriHijaya Air. Diduga, Razanah pergi ke Bandung dan berniat kembali ke Pontianak lewat Jakarta.

Danali menuturkan, di Bandung, Lazanna berobat. Dia berkata: “Saya masih mencari informasi pasti. Namun, Bu Razana dan suaminya memang pergi ke Bandung untuk berobat.

Razanah mengajukan cuti dan semula dijadwalkan kembali bekerja pada Senin (11/1/2021). Ia mengatakan: “Kalau urusan pribadi, itu pengobatan medis. Dia akan cuti mulai Jumat, 1 Januari, dan akan berlangsung sampai Jumat. Jadi lusa, dia akan pergi ke kantor.”

5. Kisah Ibu dan 3 Anak yang Seharusnya Tidak Naik Sriwijaya Air

Sumber : megapolitan.kompas.com

Arneta Fauzia (39 tahun) dan ketiga anaknya menjadi korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Kepulauan Kuril, Sabtu (9/1/2021). Arneta, warga Kelurahan Unyur kelurahan Taman Lopang Indah, Banten, yang merencanakan terbang dari Jakarta ke Pontianak untuk bertemu suaminya Yaman Zai.

Arneta tidak boleh menggunakan nomor registrasi PK-CLC untuk membeli Sriwijaya Air SJ 182. Hal ini dikatakan oleh Adiknya, yang seharusnya berangkat Sabtu naik Pesawatnya NAM Airlines.

Berangkat jam 7 pagi sampai Pontianak jam 8 pagi. Tadinya ditunda sampai jam 14.00 WIB, tapi tiba-tiba kenapa diganti ke Sriwijaya Air, “kata Adi di Kramat. Polsek Jati di RSUD Jati, Selasa (12/1/2021).

Adi menambahkan: “Saya membaca di media bahwa Menteri Perhubungan membantah ada penumpang yang dipindahkan dari South Australian Airlines ke Sriwijaya, tapi ini tiket yang jelas.” Adi mengatakan pihak keluarga telah bertanya kepada Sri Lanka. Livijaya Airlines.

Adi berkata: “Kata suami korban bahwa jawaban disana (NAM Air dan Sriwijaya Air) adalah sebuah jawaban. Menurut saya ini bukan jawaban yang bagus ya. Itu bukan jawaban yang keren.” Di saat yang sama Yaman Zai , Suami Arneta, mengatakan awalnya hanya mendapat informasi tentang keterlambatan pesawat.

Yaman mengatakan: “Dia (Arneta) tidak mengatakan ada pergantian pesawat, hanya tertunda dan disuruh menunggu take off pada pukul 13.25 WIB.” Kompas.com sebelumnya memberitakan bahwa Arneta Fauzia membawa Telah meninggalkan tiga orang anak, Zurisya Zuar Zai (8), Umbu Kristin Zai (2) dan Faou Nontius Zai, 6 bulan.

Pada Sabtu, Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontanak kehilangan kontak antara Pulau Male dan Kepulauan Seribu sekitar pukul 14.40 WIB atau 4 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang. Ada 62 orang di dalam pesawat itu, termasuk 6 awak pesawat, 46 penumpang dewasa, 7 anak-anak dan 3 bayi.

Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 telah meninggalkan rute penerbangan yang terbang ke arah barat laut pada pukul 14.40 WIB. Kemudian Air Traffic Controller (ATC) menanyakan arah pesawat kepada pilot.

Baca juga : KNKT Sebut Pesawat Sriwijaya Air Tidak Meledak Sebelum Membentur Air

6. Kisah Para Pengantin Baru di Sriwijaya Air

Sumber : regional.kompas.com

Mulyadi dan Makrufatul Yeti Srianingsih seharusnya merayakan pernikahan dua bulan mereka pada Rabu (20/1). Seharusnya terasa lebih lengkap pada saat itu, karena sang istri sedang mengandung anak pertamanya, dan anak tersebut telah berada dalam kandungan selama tiga minggu.

Awalnya, keluarga Mulyadi mengaku kaget karena mantan Ketua Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu masuk dalam daftar pesawat Sriwijaya Air.

Adik Mulyadi, Slamet Bowo, mengatakan saat ditemui di Kramat Jati, “Karena adik saya pamit pada kami tanggal 15 Januari, tapi karena ada perjalanan bisnis dengan istrinya, dia pergi ke Jakarta dua kali sebelum itu.” RS Polri.

Dia melanjutkan: “Jadi keluarga Mulyadi kami sedikit terkejut saat menerima kabar itu.”

Slamit mengatakan Muliadi sudah menetap di Jakarta. Dia telah merasakan peran sebagai politisi di Partai Hanura.

Katanya: “Almarhum sudah 10 tahun tinggal di Jakarta. Baru kemarin mau ke Pontianak. Sering mudik PP (mudik). Menetap di Jakarta.”

Di hari yang sama, Slamet tiba di RS Polri untuk mendapatkan informasi tentang proses identifikasi.

Katanya: “Kalau sampel DNA diambil di posko Supadio sudah selesai, tapi kita tetap harus terbang ke sini karena kita mau lihat prosesnya. Bapak ibu semua standby di Pontianak menunggu prosesnya. . “

Dia mengatakan bahwa pihak keluarga sekarang telah melepaskan masalah ini dan akan menunggu prosesnya selesai.

Dia berkata: “Sudah takdir. Kami harus menunggu sampai proses ini selesai. Kami serahkan ke tim DVI.”

Pengantin baru lainnya adalah Putri Wahyuni ​​dan Ihsan Hakim di Sriwijaya Air SJ-182, yang harus merayakan pernikahannya di Pontianak, Kalimantan Barat.

Adik Putri Aulia Rizki menuturkan, akad nikah pasangan suami istri tersebut rencananya akan dilangsungkan di rumah orang tua Ihsan. Namun, Olia mengatakan bahwa keluarganya kini sudah pasrah dan hanya berharap bisa menemukan sisa-sisa keluarganya.

Keluarga berangkat ke Jakarta pada Senin (11/1) untuk menyerahkan dokumen dan DNA kepada orang tua Putri untuk membantu mereka mengidentifikasi korban. Hal yang sama juga dilakukan oleh keluarga Ihsan.

Dia berkata: ” Kami akan membawa akta kelahiran, ijazah, dan data DNA orang tua langsung ke pos untuk menemukan korban.”

Dia melanjutkan: “Saya berharap dapat menemukan mayatnya sehingga kami setidaknya dapat menemukannya.”

Sebelumnya, pesawat penumpang Sriwijaya Air rute Jakarta-Puntanak pada penerbangan SJ-182 kehilangan kontak pada Sabtu (9/1) setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta di Tenerang.

Tim pencari kini telah mengumpulkan ratusan kantong jenazah berisi bagian tubuh penumpang yang mencurigakan dan puing-puing pesawat.

Menurut data daftar penerbangan, pesawat yang diproduksi pada 1994 itu mampu mengangkut 62 orang, termasuk 50 penumpang dan 12 awak. Rinciannya, 40 dewasa, 7 anak, dan 3 bayi. Pada saat yang sama, 12 awak tersebut terdiri dari 6 awak aktif dan 6 anggota awak tambahan.